Never Judge a Building by Its Cover

1/15/2021

Many of Jakarta’s and Bali’s most popular hotels, restaurants and nightclubs have something in common - they were designed by Sonny Sutanto. Dewald Haynes of Indonesia Design was fortunate enough to meet up with Sonny in Bali for a talk about architecture, design, a bit of ‘know how’ and to witness a lot of passion for his completed and upcoming projects.

"I don’t limit myself to anything, but I always try to be sensitive to scale, size and space."

Sonny Sutanto

Known for his eclectic style, Sonny is currently (at press time) working on projects in Jakarta, Bali and Balikpapan. He also teaches architecture and acts as a mentor to his students to ensure that the next generation of architects makes good use of what he sees as a revived platform for Indonesian architecture.

How would you describe yourself as an architect?
Many people see architects and interior designers the same way. But as an architect, I have a different approach from interior designers. Interior designers see a room in terms of how they will decorate it. I see an area spatially. I see it in terms of space and scale. Also, as an architect, I’m involved in every single stage of design and construction. And although I’ve been involved in urban planning and interior design projects, my true passion is designing buildings. For me, buildings have a more significant effect, while interior design affects people for a short time.

You have designed several hotels. What’s the biggest difference between designing something in Jakarta and Bali?
Restriction —whether its cultural or architectural restrictions. It’s a completely different group of people that you’re designing for in those two cities. But keep in mind, even in the same city, every area is different. For example, in Bali, designing something in Sanur is totally different than designing something in Kuta. In Kuta, there’s a hippie and tourist culture. In Sanur, there are more Europeans and older people. And in Jakarta, designing something in Kelapa Gading will be different than Plaza Senayan. Every place has its own spirit.

Many of your projects also have more than one outlet, such as the MaxOne Hotel Group, do you approach each building the same way?
Not at all, actually in a chain group I try to restrict my customer not to have more than five branches. Overkill is possible, but with MaxOne each hotel has its own theme, challenge and interior design in order to create a unique character. This I find refreshing, but even if a design should have to be the same in character no two buildings can be approached in exactly the same way to achieve this.

At MaxOne in Jimbaran you designed a rooftop pool would you say this is new trend?
Trend, perhaps but it was done because there was not enough land space to build a swimming pool, therefor the pool had to go onto the roof. When a pool is placed on roof certain reinforcing needs to be done to the foundation to carry the weight. After a certain amount of floors a building starts to move slightly more, this is an engineering fact, and the extra weight of a rooftop pool also needs to be taken into account to keep the structure secure. I suppose as land become more scares more pools will end up on rooftops.

Aside from doing architectural projects, you also teach architecture at the University of Indonesia and Pelita Harapan University. Why did you want to teach?
Teaching is important because it gives me a chance to share my knowledge. For me, my work is practicing theory, and teaching is theorizing practice. Teaching is limitless for me and allows me to be more free, because teaching is more abstract. In real life, things get in the way, whether it’s clients, budgets or time. But those inhibiting factors do not necessarily exist in the classroom.

How do you get inspiration for your designs?
Honestly, I don’t know. It can come from anything. Sometimes I get inspiration from paintings, scribbles and even fashion. I don’t limit myself to anything, but I always try to be sensitive to scale, size and space. When I did Blowfish, we found a photograph of a sofa with pillows. And we designed the whole restaurant around that one picture. My approach in designing something is that I don’t have one specific approach. I don’t necessarily want to be consistent, I want to be creative. Architecture is about exploration.

When I look at your design’s it has become noticeable that from the outside, the exterior there isn’t much details yet inside it has so many details. Why is that?
You see my designs correctly. As you never judge a book by its cover so should you not judge a building just on its cover. It is inside the building where the design becomes tangible and alive and this is where I put many of design details. It’s the spatial experience in the interior, that matters a lot.

Sebagian besar hotel, restoran dan night club popular di Jakarta dan Bali memiliki satu persamaan—bangunan-bangunan tersebut semua dirancang oleh Sonny Sutanto. Arsitek ini telah ikut serta dalam pembangunan banyak venue di Indonesia yang dikenal hip dan trendi. Kini, popularitas serta permintaan yang tinggi akan jasanya telah menaikkan tingkat keahliannya di dunia arsitektur.

Dikenal dengan gayanya yang eklektik, sekarang Sonny sedang disibukkan oleh proyek-proyeknya di Jakarta, Bali dan Balikpapan. Dia juga mengajar mata kuliah arsitektur dan menjadi mentor bagi siswa-siswanya guna memastikan generasi arsitek selanjutnya bisa menggunakan dengan baik apa yang disebutnya sebagai landasan arsitektur Indonesia yang telah hidup kembali. Dewald Haynes dari Indonesia Design beruntung bisa bertemu dengan Sonny di Bali untuk berbincang mengenai arsitektur, desain, sedikit ‘pengetahuan tambahan’ serta untuk menyaksikan sendiri gairah yang dituangkan Sonny ke dalam proyek-proyek yang telah diselesaikan maupun yang sedang dikerjakannya.

Bagaimana Anda mendeskripsikan diri Anda sendiri sebagai arsitek?Banyak orang memandang arsitek dan desainer interior sebagai pekerjaan yang sama. Tapi sebagai arsitek saya memiliki pendekatan berbeda dari rekan-rekan desainer interior. Mereka melihat sebuah ruangan dan berpikir bagaimana cara mendekorasinya. Saya memandang sebuah area sebagai ruangan. Saya memandangnya dalam bentuk ukuran dan skala. Selain itu, sebagai arsitek saya terlibat dalam semua tahapan desain dan konstruksi. Dan walaupun saya telah ikut serta dalam proyek-proyek tata kota dan interior desain, minat utama saya adalah merancang bangunan. Bagi saya, bangunan memiliki efek yang signifikan sementara desain interior hanya bisa mempengaruhi orang untuk sementara waktu saja.

Anda telah merancang beberapa hotel. Apa perbedaan utama antara mendesain bangunan di Jakarta dan Bali?
Batasannya—baik batasan budaya maupun arsitektur. Di kedua kota itu Anda mendesain untuk klien yang berbeda karakternya. Tapi harus diingat bahwa bahkan di kota yang sama tiap area juga berbeda. Contohnya di Bali, merancang sebuah bangunan di Sanur sama sekali berbeda dengan merancang bangunan di Kuta. Di Kuta terdapat budaya hippie dan turis sedangkan di Sanur lebih banyak dijumpai wisatawan dari Eropa dan lebih tua usianya. Dan di Jakarta, mendesain sebuah gedung di Kelapa Gading pasti berbeda dengan di Plaza Senayan. Tiap tempat memiliki jiwanya masing-masing.

Banyak proyek Anda memiliki lebih dari satu outlet, seperti MaxOne Hotel Group. Apakah Anda melakukan pendekatan pada setiap bangunan dengan cara yang sama?
Tentu tidak. Sebenarnya untuk jaringan hotel semacam ini saya mencoba membatasi klien untuk tidak mempunyai lebih dari lima cabang karena mungkin saja menjadi terlalu berlebihan.Tapi setiap hotel MaxOne memiliki tema, tantangan dan desain interior sendiri-sendiri agar tercipta sebuah karakter yang unik. Ini sungguh menyegarkan menurut saya, tapi bahkan jika desain sebuah bangunan harus sama karakteristiknya dengan bangunan lain, tidak seharusnya dua bangunan itu diperlakukan dengan cara yang persis sama.

Anda mendesain sebuah kolam renang rooftop di MaxOne Jimbaran, apakah ini merupakan tren terbaru?
Ini mungkin saja sebuah tren, tapi sebenarnya saya melakukan itu karena di sana tidak cukup lahan untuk membuat kolam renang. Jadi kolamnya harus diletakkan di atap. Untuk membangun sebuah kolam renang di atap, pondasi harus diperkuat sedemikian rupa agar mampu menahan beratnya. Setelah dibangun beberapa lantai, sebuah bangunan akan mulai bergeser sedikit, ini adalah fakta teknis, dan berat tambahan kolam renang rooftop juga harus diperhatikan agar strukturnya aman. Saya kira jika lahan semakin berkurang, makin banyak kolam renang yang akan diletakkan di atap.

Selain mengerjakan proyek-proyek arsitektur, Anda juga mengajar arsitektur di Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan. Mengapa Anda terjun menjadi pengajar?
Mengajar itu penting karena memberi saya kesempatan untuk membagikan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Bagi saya, pekerjaan saya merupakan praktek dari teori sedangkan mengajar itu adalah membuat praktek menjadi teori. Mengajar tidak ada batasnya bagi saya dan saya bisa lebih bebas karena mengajar sifatnya abstrak. Di kehidupan nyata, beberapa hal bisa menginterupsi sebuah desain, seperti klien, bujet atau waktu.Tapi faktor-faktor penghambat tersebut tidak akan ditemukan di dalam kelas.

Desain Anda terinspirasi dari apa?
Sejujurnya, saya tidak tahu. Inspirasi bisa datang dari mana saja.Terkadang saya mendapatkan inspirasi dari lukisan, corat-coret dan bahkan fashion. Saya tidak membatasi diri tapi saya terus berusaha untuk lebih sensitif terhadap skala, ukuran dan ruang. Ketika mengerjakan Blowfish, kami menemukan sebuah foto sofa lengkap dengan bantalnya. Dan kemudian desain kami untuk restoran itu terinspirasi dari foto itu. Pendekatan saya dalam mendesain adalah saya tidak memiliki pendekatan khusus. Saya tidak ingin menjadi konsisten. Saya ingin menjadi kreatif. Arsitektur sendiri merupakan eksplorasi.

Saat melihat desain Anda, tampak bahwa dari luar eksteriornya tidak memiliki terlalu banyak detil, tapi sebaliknya interiornya dihias dengan begitu banyak detil. Mengapa demikian?
Anda melihat desain saya dengan benar. Kalau Anda tidak boleh menilai sebuah buku dari sampulnya saja, sebuah bangunan juga tidak boleh dilihat dari luarnya saja. Bagian dalam gedung menjadi nyata dan hidup dan di sinilah saya meletakkan detil desainnya. Hal ini baik, jika bisa, silakan masukkan ke dalam interiornya.... Ini pengalaman spasial yang berarti sekali.

Like this story, share to your friends
Dewald Haynes
Author
Born in South Africa, cultural diversity is something Dewald Haynes embrace on a daily basis through his travels. Based in Jakarta he is currently the Editor at Large of Indonesia Design and writing about his findings around the archipelago and beyond is a passion.